AL-MAKKIYAH DAN AL-MADANIYAH




MAKALAH
AL-MAKKIYAH DAN AL-MADANIYAH
Tujuan Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah  : ULUMUL QUR’AN
Dosen: ANWAR SADAD M.Pd.I
 



Disusun Oleh :
NAMA: SENDI OKTA SAPUTRA
NIM:1701140498
KELAS/SEMESTER: B/SATU(1)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKARAYA
TAHUN AJARAN 2017/2018




KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga Penulis bisa menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “AL MAKKIYAH DAN AL MADANIYAH” sebagai tugas mata kuliah Ulumul Qur’an yang baik dan tepat pada waktunya.
            Pada kesempatan ini,Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak ANWAR SADAD M.Pd.I selaku dosen pengampu pada mata kuliah ulumul Qur’an yang telah memberikan bimbingan kepada kami, sehingga makalah ini bisa terselesaikan tepat pada waktunya.
            Melalui makalah ini, Penulis menjelaskan dan memahami  Pengertian al-makkiyah dan al-Madaniyah, klasifikasi ayat-ayat dan surah-surah Al-Qur’an,ciri-ciri khas ayat-ayat makiyyah dan madaniyah dan manfaat dan fungsi mempelajari surah al-makiyyah dan al-Madaniyah.pemahaman tentang Makkiyah dan Madaniyah dalam Ulumul Qur’an, menjadi penting untuk dikaji dan diteliti lebih lanjut. Oleh sebab itu penulis berharap makalah ini bisa bermanfaat khusunya dalam memahami tentang Makkiyah dan Madaniyah dalam Ulumul Qur’an.
Sebagai penyusun makalah ini, penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam menyusun  makalah ini. Oleh karena itu,  kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan guna kesempurnaan makalah ini dan pembuatan makalah kedepan.
Atas perhatian dan waktunya, penulis sampaikan banyak terima kasih.
Wassalamualaikum Wr.Wb

palangkaraya, 30 September 2017


Penyusun


                                                                       
     i


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................i
DAFTAR ISI..................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.........................................................................................................1-2
B. Rumusan Masalah.......................................................................................................2
C. Tujuan ...................................................................................................................... .2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Al-Makkiyah danAlMadaniyah.............................................................3-5
B. Klasifikasi Ayat-Ayat dan Surah-Surah Al-Qur’an...............................................5-11
C. Ciri-Ciri Khas Ayat-Ayat Makiyyah dan Madaniyah...........................................11-15
D. Manfaat dan Fungsi Mempelajari Surah Al-Makiyyah dan Al-Madaniyah..........15-16
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................................................17
B. Saran...........................................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA






     ii       
 

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar belakang
Al-Qur’an adalah kitab suci umat islam yang harus diimani dan diamalkan dalam kehidupan agar memperoleh kebaikan di dunia dan di akhirat. Mempelajari Al-Qur’an adalah kewajiban. Dalam makalah ini akan membahas tentang  fase makkiyah dan fase madaniyah, dimana keduanya memiliki perbedaan kandungan isi. Umumnya Surah-surah yang tertata rapi di dalam Al-Quran berkaitan dengan kedua terminologi tersebut. Melalui makalah ini kami akan menganalisis kedua fase tersebut untuk menambah wawasan kita sebagai umat muslim.
Sementara itu untuk mengetahui manakah ayat dan surat pada Al-Quran yang tergolong Makkiyah ataupun Madaniyah tidaklah mudah. Diperlukan penyaksian langsung tentang proses pewahyuannya. Maka salah satunya jalan ialah memahami ayat-ayat mana saja yang tergolong Makkiyah atau Madaniyah, kecuali riwayat dari para sahabat Rasul. Karena merekalah yang mengikuti perjalanan hidup Rasulullah Saw baik di Makkah maupun di Madinah. Untuk dapat mengetahui tentang makkiyyah dan madaniyyah lebih dalam, pahamilah pembahasan berikut.
Semua bangsa berusaha keras untuk melestarikan warisan pemikiran dan nilai-nilai kebudayaannya. Tak terkecuali umat islam, mereka sangat memperhatikan kelestarian risalah Muhammad yang memuliakan semua umat manusia. Itu disebabkan risalah Muhammad bukan sekedar risalah ilmu dan pembaharuan yang hanya mendapat perhatian sepanjang akal menerimanya. Tetapi, di atas itu semua, ia merupakan agama yang melekat pada akal dan terpatri dalam hati.Orang yang membaca Al-Qur’an Al-Karim akan melihat bahwa ayat-ayat makkiyah mengandung karakteristik yang tidak ada dalam ayat-ayat madaniyyah, baik dalam irama maupun maknanya begitupun sebaliknya; sekalipun yang kedua ini didasarkan pada yang pertama dalam hukum-hukum dan perundang-undangannya.
Abdul Qasim Al-Hasan bin Muhammad bin Habib An-Naisaburi menyebutkan dalam kitabnya At-Tanbih ‘Ala Fadhli ‘Ulum Al-Qur’an “Di antara ilmu-ilmu Al-Qur’an yang paling utama adalah ilmu tentang nuzulul Al-Qur’an dan wilayahnya, urutan turunnya di makkah dan madinah, tentang hukumnya yang diturunkan di makkah tetapi mengandung hukum madani dan sebaliknya, serupa dengan yang diturunkan di makkah, tetapi pada dasarnya termasuk madani dan sebaliknya.  Juga tentang yang diturunkan di Juhfah, Baitul Maqdis, Tha’if atau Hudaibiyah. Demikian juga tentang yang diturunkan di waktu malam, di waktu siang, diturunkan secara bersama-sama. Atau ayat–ayat Madaniyyah dalam surat-surat Makkiyyah dan sebaliknya. Itu semua ada 25 macam. Orang yang tidak mengetahuinya dan tidak dapat membeda-bedakannya, ia tidak berhak berbicara tentang Al-Qur’an. ”
Bagitu pentingnya arti pengelompokan yang diutarakan Al-Qosim tentang permasalahan tentang ilmu Al-Qur’an yang terdapat dalam bukunya yang berjudul Dirasah fi ‘ulum Al-Qur’an. Pada umumnya, para pakar ‘ulum Al-Qur’an membahas permasalahan ini dalam suatu maudhu’ yang lazim disebut makkiyyah dan madaniyyah. Bila tidak menguasainya, banyak faedah yang tidak dapat dipetik, dan yang hendak mengetahui Al-Qur’an tanpa memahami ayat-ayat makkiyah dan apa itu ayat-ayat  madaniyyah, bisa-bisa terjebak ke dalam kesalahan yang fatal.

B.  Rumusan masalah
1.  Apa Pengertian Al-Makkiyah dan Al-Madaniyah ?
2.    Bagaimana klasifikasi Ayat-ayat dan Surat-surat Al-Quran?
3.    Bagaimana  ciri-ciri surat Makiyah dan Madaniyyah?
4.    Apa manfaat dan Fungsi mempelajari surat Makkiyah dan Madaniyyah?

C. Tujuan Masalah
1.   Mengetahui Pengertian Al-Makkiyah dan Al-madaniyah?
2.   Mengetahui klasifikasi Ayat-ayat dan Surat-surat Al-Quran?
3.   Meetahui ciri-ciri surat Makiyah dan Madaniyyah?
4.   Mengetahui manfaat dan Fungsi mempelajari surat Makkiyah dan Madaniyyah?

 




BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Al -Makkiyah dan Al-Madaniyah
     Para sarjana muslim mengemukakan empat perspektif dalam mendefinisikan terminologi makkiyah dan madaniyah. Keempat perspektif itu adalah :
1.  Masa turun (zaman an-nuzul)
2.  Tempat turun(makan an-nuzul)
3.  Objek pembicaraan (mukhathab)
4.  Tema pemmbicaraan (maudu’)
1. Dari perspektif masa turun, mereka mendefinisikan kedua terminologi di atas sebagai berikut :
اَلْمَكِيُ : مَا نَزَلَ قَبْلَ اْلهِجْرَةِ وَاِنْ كَانَ بِغَيْرِ مَكَةَ.
وَ المدَنِيُ : مَا نَزَلَ بَعْدَ الِهجْرَةِ وَاِنْ كَانَ بِغَيْرِ مَدِيْنَةَ.
فَمَا نَزَلَ بَعْدَ الهِجْرَةِ وَلَوْ بِمَكَةَ أَوْ عَرَفَةَ مَدَنِيُ.
Artinya :
“Makkiyyah ialah ayat-ayat yang turun sebelum rasulullah hijrah ke madinah, meskipun bukan turun di mekah, sedangkan madaniyyah adalah ayat-ayat yang turun sesudah rasulullah hijrah ke madinah, kendatipun bukan turun di madinah. Ayat-ayat yang turun setelah peristiwa hijrah disebut madaniyyah walaupun turun di mekah atau di arafah.”
           Dengan demikian, surat an-nisa’ [4]: 58 termasuk kategori madaniyyah kendatipun diturunkan di mekah, yaitu pada peristiwa terbukanya kota mekah (fath makkah). Begitu pula, surat al-maidah [5]: 3 termasuk kategori madaniyyah kendatipun tidak diturunkan di madinah karena ayat itu diturunkan pada peristiwa haji wada’.




2. Dari perspektif tempat turun, mereka mendefinisikan kedua terminologi di atas sebagai berikut:
مَا  نَزَلَ : بِمَكَةَ وَمَا جَا وَرَهَا كَمِنَى وَ عَرَفَةَ وَحُدَيْبِيَةَ.
وَالمدَنِيُ : مَا نَزَلَ بِالمدِيْنَةِ وَمَا جَا وَرَهَا كَأُحُدٍ وَقُبَاءَ وَسُلْعَ.
Artinya :
“Makkiyah adalah ayat-ayat yang turun di mekah dan sekitarnya seperti mina, arafah, dan hudaibiyyah, sedangkan madaniyyah adalah ayat-ayat yang turun di madinah dan sekitarnya, seperti Uhud, Quba’ dan Sul’a”
Terdapat celah kelemahan dari pendefnisian di atas sebab terdapat ayat-ayat tertentu, yang tidak di turunkan di Makkah dan di Madinah dan sekitarnya.
Misalnya surat At-Taubah [9]: 42 diturunkan di Tabuk, surat Az-Zukhruf [43]: 45 diturunkan di tengah perjalanan antara Makkah dan Madinah. Kedua ayat tersebut, jika melihat definisi kedua, tidak dapat dikategorikan ke dalam Makkiyyah dan Madaniyyah.

3. Dari objek pembicaraan, mereka mendefinisikan kedua terminologi di atas sebagai berikut :
اَلْمَكِيُ : مَاكَانَ خِطَابًا لِأَهْلِ مَكَةَ . وَالمدَنِيُ : مَاكَانَ خِطَابًا لِأَهْلِ المدِيْنَةِ.
Artinya :
Makkiyah adalah ayat-ayat yang menjadi khitab bagi orang-orang Makkah. Sedangkan Madaniyyah adalah ayat-ayat yang menjadi khitab bagi orang-orang Madinah”
Pendefinisian diatas dirumuskan para sarjana muslim berdasarkan asumsi bahwa kebanyakan ayat al-qur’an dimulai dengan ungkapan “ya ayyuhan naas” yang menjadi kriteria Makkiyah, dan ungkapan “ya ayyuha al-ladziina” yang menjadi kriteria Madaniyyah. Namun, tidak selamanya asumsi ini benar. Surat Al-Baqarah [2], misalnya, termasuk kategori Madaniyyah, padahal di dalamnya terdapat salah satu ayat, yaitu ayat 21 dan ayat 168, yang dimulai dengan ungkapan “ya ayyuhan naas”. Lagi pula, banyak ayat al-quran yang tidak dimulai dengan 2 ungkapan di atas.

4.  Dari tema pembicaraan, mereka akan mendefinisikan kedua terminologi lebih terinci.
meskipun mengunggulkan pendefinisian Makkiyyah dan Madaniyyah dari perspektif masa turun, subhi shahih melihat komponen-komponen serupa dalam tiga pendefinisian. Pada ketiga versi itu terkandung komponen masa tempat dan orang. Bukti lebih lanjut dari tesis shahih di atas bisa dilihat dalam kasus surat Al-Mumtahanah [60]. Bila dilihat dari perspektif tempat turun, surat ini termasuk Madaniyyah karena diturunkan sesudah peristiwa hijrah. Akan tetapi, dalam perspektif objek pembicaraan, surat itu termasuk Makkiyah karena menjadi khitab bagi orang-orang mekah. Oleh karena itu, para sarjana muslim memasukkan surat itu ke dalam“ma nuzila bi al Madinah wa hukmuhu Makki ” (ayat-ayat yang di turunkan di Madinah, sedangkan hukumnya termasuk ayat-ayat yang diturunkan di Mekah). [1]
Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa Makkiyyah adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah SWT sebelum hijrah ke Madinah, walaupun ayat tersebut turun di sekitar / bukan di kota Makkah, yang pembicaraannya lebih ditujukan untuk penduduk Makkah.
Sedangkan Madaniyyah adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan di Madinah dan sekitarnya walaupun turunnya di Makkah, dan pembicaraannya lebih ditujukan untuk penduduk Madinah.
B. Klasifikasi ayat-ayat dan surah-surah Al-Quran.
Jumlah surat di dalam Al-Qur'an terdiri dari 114 surat 86 diantaranya  turun di Makkah disebut ayat Makkiyah dan 28 surat turun setelah hijrah ke Madinah disebut ayat Madaniyah.[15]
Agak sulit untuk melacak dan mengidentifikasai secara pasti ayat-ayat Makkiyah dan ayat-ayat Madaniyah karena urutan tertib ayat tidak mengikuti kronologi  waktu turunnya ayat, tetapi berdasarkan petunjuk nabi (tauwqifi). lagi pula mushaf usmani yang menjadi acuan sntandar sejak semula disusun mengikuti petunjuk nabi. Para ahli tafsir tiada sekata dalam menetapkan jumlah surat yang turun di Madinah, bahkan berselisih pula tentang menentukan surat-surat Makkiyah dan Madaniyah.



1. Beberapa Contoh Ayat Makkiyah dan Madaniyah
a. Surat-surat Makkiyah menurut tertib turunnya. Di bawah ini kami paparkan surat Makkiyah menurut tertib turunnya berdasarkan keterangan sebagian ulama.
No
Nomor Surah
Nama Surah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
64.
65.
66
67.
68.
69.
70.
71.
72.
73.
74.
75.
76.
77.
78.
79.
80.
81.
82.
83.
84.
85.
86.
96
68
73
74
1
111
81
87
92
89
93
94
103
100
108
102
107
109
105
113
114
112
53
80
97
91
85
95
106
101
75
104
77
50
90
86
54
38
7
72
36
25
35
19
20
56
26
27
28
17
10
11
12
15
6
37
31
34
39
40
41
42
43
44
45
46
51
88
18
16
71
14
21
23
32
52
67
69
70
78
79
82
84
30
29
83
Al-‘Alaq
Al-Qalam
Al-Muzzammil
Al-Muddatstsir
Al-Fātihah
Al-Lahab
At-Takwir
Al-A’lā
Al-Layl
Al-Fajr
Ad-Dhuhā
Al-Insyirāh
Al-‘Ashr
Al-‘Adiyat
Al-Kawtsar
Al-Takatsur
Al-Mā‘ūn
Al-Kāfirūn
Al-Fiil
Al-Falaq
An-Nas
Al-Ikhlāsh
An-Najm
‘Abasa
Al-Qadr
As-Syams
Al-Burūj
At-Tin
Al-Quraisy
Al-Qāriah
Al-Qiyamah
Al-Humazah
Al-Mursalāt
Qāf
Al-Balad
At-Thāriq
Al-Qamar
Shād
Al-A’raf
Al-Jinn
Yasin
Al-Furqan
Fathir
Maryam
Thāhā
Al-Wāqiah
As-Syu arā
An-Naml
Al-Qashash
Al-Isrā
Yūnus
Hūd
Yūsuf
Al-Hijr
Al-An’ām
Al-Shaffāt
Luqmān
Sabā
Alz-Zumar
Ghāfir
Fushshilat
As-Syūrā
Al-Zukhruf
Ad-Dukhan
Al-Jātsiyah
Al-Ahqāf
Al-Dzāriyat
Al-Ghāsyiyah
Al-Kahfi
An-Nahl
Nūh
Ibrahim
Al-Anbiyā
Al-Mu’minūn
As-Sajadah
At-Thūr
Al-Mulk
Al-Hāqqah
Al-Maārij
An-Nabā
An-Naziat
Al-Infithār
Al-Insyiqāq
Al-Rūm
Al-‘Ankabūt
Al-Muthaffifin
          
  Dari beberapa ayat Makkiyah diatas maka penulis memberikan pengecualian ayat-ayat Madaniyah dalam surah Makkiyah misalnya, QS al-An’am (6): 151-153. dan QS al-A’raf (7)163-171.





b. Adapun Surah-surah Madaniyah berdasarkan tertib turunnya sebagai berikut:
No.Urut
Nomor Surah
Nama Surah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
2
8
73
33
60
4
57
47
65
59
24
22
63
58
49
66
64
61
62
48
5
9
110
Al-Baqarah
Al-Anfāl
Ali-Imrān
Al-Ahzāb
Al-Mumthanah
An-Nisā’
Al-Hadid
Muhammad
At-Thalāq
Al-Hasyr
An-Nūr
Al-Haj
Al-Munāfiqūn
Al-Mujādilah
Al-Hujurāt
At-Tahrim
At-Taghābun
Al-Shāf
Al-Jumah
Al-Fath
Al-Mā‘idah
At-Tawbah
An-Nashr

Dari beberapa surah Madani yang di atas penulis memberikan pengecualian yaitu ayat Makkiyah dalam surah Madaniyah misalnya: QS al-Anfal (8): 30. QS al-Anfal (8): 64 dan al-Hajj (17): 52-55. Kemudian ayat diturunkan di Madinah sedang hukumnya Makkiyah adalah QS al-Mumtahanah (60).
Menurut sebagian ahli tafsir menetapkan bahwa surat-surat yang turun di Madinah sejumlah dua puluh delapan, tambahan atas dua puluh tiga ini, lima surat lagi yaitu:
1. Az-Zalzalah
2. Ar Rad
3. Ar-Rahman
4. Al-Insān
5. Al-Bayyinah
C. Ciri-Ciri Khas Ayat-Ayat Makiyyah dan Madaniyah
a. Ayat-ayat Makkiyah itu pendek-pendek dan dinamai ayat qhisar, buktinya juz 30 memuat 36 surah yang pada umumnya surah-surah Makkiyah.
b. Dimulai dengan yā ayyuha an-Nās
c. Ayat-ayat Makkkiyah pada umumnya mengandung hal-hal yang berhubungan dengan keimanan, ancaman dan pahala, kisah-kisah umat terdahulu yang mengandung pengajaran dan budi pekerti.
d. Setiap surat mengandung lafal Kallā, lafal ini hanya terdapat dalam separuh terakhir dari Alquran dan disebutkan 33 kali dalam 15 surat.
e.  Setiap surat di dalamnya mengandung ayat-ayat sajadah’
f.  Setiap surat diawali dengan huruf-huruf singkat seperti Alif  Lāam mîim, Alif  Lāam rā, hāmîm dll. Kecuali pada surah al-Baqarah dan  surah Ali-Imran.
g. Setiap surah di dalamya kisah Adam dan Iblis keculai surah al-Baqarah.
h. Setiap surat yang di dalamnya mengandung kisah para nabi dan umat terdahulu kecuali pada surat al-Baqarah.
i.  Kata-katanya demikian lembut, jernih dan mudah dilagukan sesuai dengan huruf-hurufnya yang dapat diucapkan lirih dan dapat pula dengan suara keras.
j.  Bunyi akhiran ayat-ayat demikian harmonis dan berimbang kadang mendatar, kadang menggelombang, kadang melemah terpatah-patah dan kadang-kadang juga menggelegak, mengalun dan menggemuru.
·         Sedangkan dari segi ciri tema dan gaya bahasa dapatlah diringkas sebagai berikut:
a. Ajakan kepada tauhid dan anjuran beribadah hanya kepada Allah swt, pembuktian tentang risalah kenabian, kebangkitan dan hari pembalasan, hari kiamat, neraka dan siksaanya, surga dan kenikmatnnya, argumentasi terhadap orang-orang musyrik dengan menggunakan bukti-bukti rasional dan ayat-ayat kauniyah.
b. Meletakkan dasar-dasar dan ketentuan umum perundangan-undangan dan akhlak mulia yang menjadi dasar terbentuknya suatu masyarakat, dan penyingkapan dosa orang musyrik dalam penumpahan darah, memakan harta anak yatim, penguburan hidup-hidup bagi perempuan dan tradisi buruk lainnya.
c. Menyebutkan kisah para nabi dan umat-umat terdahulu sebagai pelajaran bagi mereka dan dapat dijadikan sebagai hiburan buat nabi Muhammad saw, untuk tabah dan sabar dalam menghadapi gangguan  dari musuh-musuhnya.
d. Suku katanya pendek-pendek disertai kata-kata yang mengesankan sekali, pernyataanya singkat, di telinga terasa menembus dan terdengar sangat keras, menggetarkan hati, dan maknanya pun meyakinkan dengan diperkuat lafal-lafal sumpah, seperti surah-surah yang pendek.
e.  Bukti-bukti kebenaran dan dalil-dalil yang di pergunakan lebih mengutamakan kebenaran agama
f.  Banyak bercerita tentang orang munafik dan problem-problema yang disebabkan karena mereka.


·         Ciri-ciri ayat dan  surat Madaniyah
a.   Ayat-ayat Madaniyah panjang-panjang dan dinamai ayat thiwal .
b. Kebanyakan firman Allah dalam surah madaniyah dimulai dengan perkataan yā ayyuha lazina āmanū.
c. Lebih banyak mengutarakan tentang sanksi-sanksi, hukum, warisan, hak dan aturan politik, sosial dan negara.
d. Setiap surah di dalamnya disebutkan orang-orang munafik  kecuali pada surah al-Ankabut.
e. Setiap surah di dalamya terdapat dialog dengan ahlul kitab.
·         Dari segi ciri khas tema dan gaya bahasa dapatlah diringkaskan sebagai berikut.
a. Menjelaskan ibadah, muamalah, had, kekeluargaan, warisan, jihad, hubungan internasional, baik di waktu damai maupun di waktu perang, kaidah hukum dan masalah perundang-undangan.
b. Seruan  terhadap ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Dan ajakan kepada mereka masuk Islam, penjelasan mengenai penyimpangan mereka terhadp kitab-kitab Allah, permusuhan mereka terhadap kebenaran dan perselisihan mereka setelah ilmu datang kepada mereka karena rasa dengki diantara sesama mereka.
c. Memyingkap prilaku orang munafik, menganalisis kejiwaanya, dan menjelaskan bahwa ia berbahaya bagi agama.
d. Suku katanya dan ayatnya panjang-panjang dan dengan gaya bahasa yang memantafkan syariat serta menjelaskan tujuan dan sasarannya.
Tidak diragukan lagi bahwa ukuran perbandingan diantara ciri-ciri umum surah Makkiyah dan Madaniyah banyak membantu untuk mengetahui lebih jauh tema tersebut. Ciri-ciri spesifik yang dimiliki Madaniyah baik dilihat dari perspektif analogy ataupun tematis, memperlihatkan langkah-langkah yang ditempuh Islam dalam mensyariatkan peraturan-peraturannya, yaitu dengan cara periodic hirarkis. sejarah telah membuktikan adanya system sosio kultural berbedah Makkah dan Madinah. Makkah dihuni komunitas yang keras kepala aksinya yang selalu menghalangi dakwah nabi dan para sahabatnya. Sedangkan di Madinah setelah nabi hijrah ke sana terdapat tiga komunitas, komunitas muslim yang terdiri kelompok muhajirin dan anshar, komunitas munafik dan komunitas Yahudi. Alquran menyadari benar perbedaan sosio kultural antara kedua tempat itu. Oleh karena itu alur pembicaraan ayat yang diturunkan bagi penghuni Makkah sangat berbeda dengan alur yang diturunkan bagi penduduk Madinah.
Jika sebuah surah sesuai dengan ciri-ciri umum surah Makkiyah dalam gaya bahasa, tingkat keringkasan surah, kesesuain nama, dan bercerita tentang kaum musyrik, maka surah tersebut digolongkan ke dalam surah Makkiyah karena sesuai ciri-ciri umum surah Makkiyah. Jika ukuran perbandingan dari sejarah itu tidak dapat memberikan suatu keputusan yang menenangkan dan meyakinkan, apakah ia termasuk surah makkiyah ataukah madaniyah maka diperbolehkan bersandarkan pada ciri-ciri di atas. Contoh adalah ayat-ayat Alquran yang bercerita tentang peperangan dan aturan kenegaraan. jika melihat ciri-ciri dari tema yang ada pada surah itu kita akan mengategorikannya ke dalam surah madaniyah karena sama-sama kita ketahui bahwa suasana dakwah pada periode pertama berlangsung sebelum Rasulullah saw melakukan hijrah tidak berisikan tentang syarat-syarat yang berkenaan dengan aturan perundang-undangan kenegaraan.
Oleh karena itu menunjukkan bahwa kelompok surah Makkiyah dan Madaniyah terpengaruh oleh lingkungan Muhammad saw hidup dan tinggal, yaitu bahwa masyarakat Makkah yang ketika itu adalah masyarkat yang ummi (buta huruf) membuat Rasulullah tidak mampu pemaparan berupa penjelasan tentang ajaran Islam dan rinciannya secara detail. Akan tetapi hanya pada masyarakat yang berperadaban yang telah maju sajalah, yang terdapat di kota Yastrib (Madinah) yang menyebabkan nabi mampu memberikan penjelasan ajarannya secara terperinci.    
Dalam hal ini dapat kita simpulkan bahwa maksud dari pencirian dan pengkhususan kelompok surah Makkiyah sebagai kelompok surah yang pendek dan ringkas dikarenakan mayoritas surah Makkiyah adalah surah yang pendek-pendek tapi bukan berarti surah Makkiyah secara keseluruhan. Begitupula sebaliknya kelompok surah  Madaniyah adalah panjang-panjang akan tetapi pernyataan di atas bukan berarti menunjukkan keterputusan hubungan antara kedua kelompok surah tersebut  dalam Alquran. untuk membuktikan hal tersebut dapat kita lihat bahwa beberapa surah yang panjang masuk dalam kelompok surah Makkiyah seperti QS al-An‘am (6):151-152. dari dua pristiwa tersebut maka dapat dipahami ada katerkaitan dan kesesuaian dalam surah Makkiyah dan Madaniyah. Seolah-olah kedua kelompok surat itu turun secara bersamaan.

D. Apa Manfaat dan Fungsi Mempelajari Surah Al-Makiyyah dan Al-Madaniyah
An-Naisaburi dalam kitabnya At-Tanbih ‘ala Fadhl Ulum Al-Quran, memandang subjek makkiyah dan madaniyyah sebagai ilmu Al-Quran yang paling utama. Sementara itu , Manna’ Al-Qaththan mencoba lebih jauh lagi dalam mendeskripsikan urgensi mengetahui makkiyah dan madaniyyah sebagai berikut.
1. Membantu dalam menafsirkan Al-qur’an
Pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa di seputar turunnya Al-Qur’an tentu sangat membantu dalam memahami dan menafsirkan ayat-ayat Al-Quran, meskipun ada teori yang mengatakan bahwa yang harus menjadi patokan adalah keumuman redaksi ayat dan bukan kehususan sebabin. Dengan mengetahui kronologis Al-Quran pula, seorang musafir dapat memecahkan makna kontradiktif dalam dua ayat yang berbeda, yaitu dengan pemecahan konsep nasikh-mansukh yang hanya bisa diketahui melalui kronologi Al-Quran.
2.  Pedoman bagi langkah-langkah dakwah
Setiap kondisi tentu saja memerlukan ungkapan-ungkapan yang relevan. Ungkapan-ungkapan dan intonasi berbeda yang digunakan ayat-ayat makkiyah dan ayat-ayat madaniyyah memberikan informasi metodologi bagi cara-cara menyampaikan dakwah agar relevan dengan orang yang diserunya. Oleh karena itu, dakwah Islam berhasil mengetuk hati dan menyembuhkan segala penyakit rohani orang-orang yang diserunya. Di samping itu, setiap langkah-langkah dakwah memiliki objek kajian dan metode-metode tertentu, seiring dengan perbedaan kondisi sosio-kultural manusia. Periodisasi makkiyah dan madaniyyah telah memberikan contoh untuk itu.
3.  Memberi informasi tentang sirah kenabian
Penahapan turunnya wahyu seiring dengan perjalanan dakwah nabi, baik di mekah atau di madinah, dimulai sejak diturunkannya wahyu pertama sampai diturunkannya wahyu terakhir. Al-Quran adalah rujukan otentik bagi perjalanan dakwah nabi itu. Informasinya tidak bisa diragukan lagi.Mengetahui sejarah hidup nabi melalui ayat-ayat Al-Quran, sebab turunnya wahyu kepada Rasulullah sejalan dengan sejarah dakwah dan segala peristiwa yang menyertainya, baik pada periode makkah maupun periode madinah, sejak turun iqra’ sampai ayat yang terakhir diturunkan. Al-Quran adalah sumber pokok bagi hidup Rasulullah. Pola hidup beliau harus sesuai dengan Al-Quran dan Al-Quran pun memberikan kata putus terhadap perbedaan riwayat yang mereka riwayatkan. [9]
Selain itu juga pengetahuan tentang makkiyah dan madaniyah banyak membawa hikmah dan faedah serta kegunaan yang bermacam-macam, antara lain sebagai berikut:
1. Mudah diketahui mana ayat-ayat yang turun lebih dahulu dan mana ayat yang turun belakangan dari kitab suci Al-Quran
2. Mudah diketahui mana ayat-ayat Al-Quran yang hukum bacaannya telah dinaskh (dihapus dan diganti) dan mana ayat-ayat yang menasakhkannya, khususnya bila ada dua ayat yang menerangkan hukum sesuatu masalah, tetapi ketetapan hukumnya bertentangan yang satu dari yang lain.
3. Mengetahui dan mengerti sejarah pensyariatan hukum-hukum Islam (Taarikhut Tasyri’) yang amat bijaksana dalam menetapkan peraturan-peraturan.
4.  Mengetahui hikmah disyariatkannya suatu hukum.
5.  Mengetahui perbedaan dan tahap-tahap dakwah Islamiah.
6.  Mengetahui perbedaan ushlub-ushlub (bentuk-bentuk bahasa) Al-Quran yang dalam surat-surat makkiyah berbeda dengan yang ada dalam surat madaniyah.











BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
A. Para Ahli muslim mengemukakan empat perspektif dalam mendefinisikan terminologi makkiyah dan madaniyah. Keempat perspektif itu adalah :
·         Masa turun (zaman an-nuzul),  Tempat turun (makan an-nuzul),Objek pembicaraan  (mukhathab) dan  Tema pemmbicaraan  (maudu’)
Makkiyyah adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah SWT sebelum hijrah ke Madinah, walaupun ayat tersebut turun di sekitar / bukan di kota Makkah, yang pembicaraannya lebih ditujukan untuk penduduk Makkah. Sedangkan Madaniyyah adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan di Madinah dan sekitarnya walaupun turunnya di Makkah, dan pembicaraannya lebih ditujukan untuk penduduk Madinah.
B. Jumlah surat di dalam Al-Quran terdiri dari 114 surat 86 diantaranya turun di Makkah dan 28 surat turun setelah hijrah ke Madinah.
C.  Ayat-ayat Makkiyah itu pendek-pendek dan dinamai ayat qhisar, buktinya juz 30 memuat 36 surah yang pada umumnya surah-surah Makkiyah,dimulai yā ayyuha nās, mengandung kisah nabi dan umat terdahulu,mengandung ayat-ayat sajadah.sedangkan ayat Madaniyah panjang-panjang, dimulai yā ayyuha lazina  āmanū, menjelaskan ibadah, muamalah.
D. membantu dalam menafsirkan Al-Qur’an,pedoman bagi langkah-langkah dakwah,dan memberi informasi tentang sirah kenabian.
B.  Saran
              Alhamdulillah, penulisan makalah ini terselesaikan dan tersusun secara sistematik. Tetapi penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, karena mengingat keterbatasan pengetahuan dari penulis. Maka dari itu penulis mohon kritik dan saran dari berbagai pihak guna untuk kesempurnaan makalah ini dan berikutnya.semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah bin Abdul Aziz Ali Sa’ud, Al Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta, Yayasan Penyelenggara Penerjemah Pentafsir Al Qur’an.

Al-Qaththan, Syeikh Manna, Pengantar Studi Ilmu Al-Quran, Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, 2006.
Anwar Rosihon, Ulum al-Qur’an, Bandung, Pustaka Setia, 2008.

Hasbi ash-Shiddieqy, Tengku Muhammad,Ilmu-Ilmu Ulumul Quran, Semarang, Pustaka Rizki Putra, 2009.

Shihab, Quraish, Sejarah & Ulum Al-Quran, Bandung, Pustaka Firdaus, 1997.
[1] Quraisyh Shihab, .Ahmad Sukardja, Sejarah dan ‘Ulūm al-Quran  (Cet. III; Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001), h. 64.
[15] Nasar Bakry, Fiqh dan Ushul Fiqh ( Cet. IV;  Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), h. 35.
[16]Quraish Shihab, op. .cit. h. 65.

[7] T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Quran/Tafsir  (Cet. VII; Jakarta: Bulan Bintang, 1977), h. 70.

[8] Departemen Agama RI.  Alquran dan Terjemahnya ( Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah al-Quran, 1989), h. 18.

[9] Muhammad ‘Abd al-‘Azhim az-Zarqani, Manāhil al-‘Irfan fi ‘Ulūm al-Quran, Juz I ( Cet. I; Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah), h. 196.

[10] Muhammad bin Muhammad Abu Syahba, al-Madkhal lidirasat al-Quran al-Karim (Beirut: Maktabah as-Sunnah. t.t.

[11]Subhi as-Shalih, Mabahits fi ‘Ulûm al-Qur’an diterjemahkan Tim Pustaka Firdaus, Membahas Ilmu-Ilmu Alquran  (Cet. IX;  Jakarta: Pustaka Firdaus 2000), h. 269.

[12] Afaf  ‘Ali Najah, Riyadhul al-Quran Karim, Juz I ( Cet. I; Kairo: Hukūku Thabi Mahfudżah, 2002), h. 97.
[13] Muhammad Baqir Hakim, Op.cit. h.105

[14] Mannā‘ Khalil al-Qattān, Op.cit. h. 88.

[13] Abdullah bin Abdul Aziz Ali Sa’ud, Al Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta, Yayasan Penyelenggara Penerjemah Pentafsir Al Qur’an, 1971, hal : 70
 
















Komentar

Postingan populer dari blog ini

SISTEM INTEGUMEN,RANGKA DAN OTOT

Ngaji Literasi Dengan Dr. Ngainun Naim, M.Ag